Bibir Biru

Oleh Naning Pranoto
Kulihat ratusan ribu bibir biru di layar kaca saat gelar konser World Cup 2010 Opening Ceremony di Orlando Stadium di Soweto Johannesburg Afsel 11 Juni lalu. Bibir-bibir biru itu mengingatkanku pada gadis bernama Robben. Aku memanggilnya: Bi-Bi. Nama lengkapnya, Robben Rolihlahla Mvezo Umtata.
“Namamu panjang sekali. Sulit kuingat!” komentarku spontan, ketika Bi-Bi, bola matanya yang hitam berkilau membelalak. “Padahal, itu nama bertuah.”
“Oya? Coba jelaskan,” pintaku serius. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.
“Okey!” bibirnya yang biru menguak lebar, deretan gigi putih tampak berkilau – kontras dengan kulitnya yang sehitam arang.
“Sure. Agar kita akrab, jadi sahabat.”
Sahutku sepenuh hati. Aku memang ingin punya sahabat gadis dari Benua Hitam, tepatnya dari Afrika Selatan.
“O… great! Aku juga. Persahabatan itu itu kado istimewa dari Tuhan.” Ia memelukku erat. Tubuhnya beraroma lavender. Siang itu kami duduk di bawah pohon gums, dibalut musim semi. Bi-Bi mengurai namanya sambil sesekali mengunyah kentang bakar, makan siangnya.
“Kakekku yang menamaiku. Ayahku meninggal terserang malaria ketika aku dalam kandungan.
Ibuku gone saat melahirkanku. Kakek pengikut setia Inkosi tktktk ya Tuan Nelson Mandela. Maka, aku dinamai Robben Rolihlahla Mvezo Umtata.”