Sebelumnya ...
aku pernah membuat cerpen di Fb tentang seseorang. Temanku copast lewat blognya... aku copast lagi lewat blogku....
the sad short story
JANJI KALA SENJA
Wednesday, March 17, 2010 at 8:28pm
Kini semua itu harus kuubah arahnya. Kali ini kondisinya sudah tak seindah dulu lagi. Bisa dikatakan sangat memuakkan. Sangat menyakitkan! Aku harus bisa merubah pola hidup dan pikiranku tentangnya dan kenangan itu selama ini. Toh Dia tak pernah sedikitpun merindukanku, atau jangankan rindu, mengingatkupun sepertinya Dia enggan.
Dia juga rupanya sudah tak mau mengingat-ingat lagi mimpi-mimpi apa saja yang telah kami rangkai. Jangankan mimpi yang sama-sama ingin kami kejar, janji kala senja pun sepertinya Dia sudah lupa. Memang ini semua berjalan mulus seperti yang Aku inginkan. Dulu, Aku sangat menginginkan untuk melepaskan diri dari ikatannya. Karena Aku selalu berpikir dari lubuk hati yang paling dalam dan menentang seribu alasan palsu yang telah Aku bicarakan padanya bahwa wanita sepertiku tidak pantas untuk selalu mendampingi pria baik sepertinya. Ya… Aku seorang wanita yang punya seribu topeng, tidak pantas untuk menjadi seorang pendamping pria yang dengan tulus mencintaiku. Dengan sangat tulus, sehingga ketulusan itulah yang harus membuatku mundur dari cintanya. Itulah kesalahanku dalam kisah kali ini. Akulah yang bersalah. Aku adalah seorang peran Protagonis sekaligus antagonis dalam cerita ini. Aku yang membuat sifatnya berubah menjadi sedingin batu es dari kutub seperti sekarang ini. Aku yang menyakiti hatinya!!!! Ah…… perlu berapa kali maaf untuk menghapus semua salahku? Aku pun tak tahu.
###
“Bara setelah dari Dinda sekarang pindah ke Putri, ya?” Tanya seorang guru disekolahku yang telah akrab mengenali satu persatu muridnya.
Deg. Seperti tiba-tiba jantungku berhenti berdetak. Ternyata benar saja selentingan orang tentang kedekatan mereka. Ternyata benar saja yang Aku kira semoga itu bukan yang sebenarnya. Huhft….. entah apa yang harus Aku katakan saat ini. Entah… rasanya dunia seolah berhenti berputar. “ Oh…ia.” Jawabku sambil –lagi- memakai topeng untuk menyembunyikan apa yang sedang Aku rasakan saat ini.
Aku menarik nafas pelan. Berkali-kali sampai rasanya sesak itu sedikit berkurang. Tepat didepan matAku, sehelai kain jilbab mengeluarkan wewangian yang khas dari seorang perempuan super beruntung saat ini. Kekasih mantan kekasih yang tak pernah bisa Aku lupakan. Huhft…. Aku ditekan sakit hati yang tiba-tiba memenuhi rongga jiwa dan percikan cahaya yang memanaskan wajahku. Dia tersenyum padAku. Cantik, ramah. Ingin rasanya Aku langsung menghembuskan nafas terakhirku saat kulihat matanya yang berbinar riang, senyumnya dibalik keindahan bibir merah mudanya. Aku tersihir seketika oleh keelokan perempuan itu. Tiba-tiba rasa iri dan malu menutupi semua sakit hatiku. Mengapa bukan Aku yang menjadi dirinya saat ini? Mengapa harus wanita didepanku ini yang menjadi kekasihnya? Mengapa bukan Aku??? Dan secarik kemilau matahari tiba-tiba meredupkan suara hatiku yang bergejolak. Tak kuhiraukan senyuman itu, tak kuhiraukan wanita itu. Angkuh. Tak seperti tatapan matanya yang bersahabat. Aku menghela nafas panjang, lagi dan lagi.
Boleh saja saat Aku memilih untuk mengakhiri hubunganku dengannya, Dia sangat tak terima. Tapi bodohnya Aku, mengapa Aku selalu berusaha untuk meyakinkan padanya, bahwa hubungan yang telah dijalin hampir satu tahun itu sudah tak bisa lagi dipertahankan. Padahal sebenarnya semua sakit hati yang Aku besar-besarkan padanya dengan serbuan kalimat-kalimat hiperbola itu telah lama sekali Aku lupakan. Hanya saja seperti noda diatas kain putih, seberapa bersihpun mencucinya tetap saja noda itu selalu meninggalkan bekas. Sama halnya seperti yang terjadi padAku kala itu. Ditambah saat itu Aku merasa dunia seakan berputar dengan cepat. Saat Aku merasa bahwa selama ini Dia tak pernah sedikitpun membahagiakanku, hadirlah seorang pria yang sama-sama mencintai sastra dan tulisan sepertiku. Saat itu pulalah ketulusanku sedang diuji. Dan bodohnya Aku, yaitu memilih melepaskannya untuk seorang pria yang Aku sendiri tak tahu seperti apa dan siapa Dia. Aku memang tak pandai membaca perasaanku sendiri. Seolah-olah kala itu perasaanku berbalik seratus delapan puluh derajat padanya yang sering kusebut kakak Laskar Pelangi itu. Kala itu entah setan dari mana yang membisikkan hatiku bahwa Aku tidak mencintainya, bahkan tak pernah. Sekali lagi kukatakan, Aku memang tak pandai membaca perasaanku sendiri. Apa yang hatiku suarakan, itulah yang Aku suarakan kembali padanya. Huh…. Maafkan Aku Kak! Hingga waktu tak lama terus menerus berputar, dan tak akan bisa kembali. Aku sengaja mempersibukkan diri dengan segala urusan. Dengan semua kegiatan. Aku sengaja melAkukan itu. Aku sengaja, supaya Aku bisa sejenak melupakan kakak baik hati yang waktu kelas satu selalu memandangiku dari jauh. Aku ingin Dia konsentrasi dengan persiapannya menghadapi ujian nasional. Aku sengaja membiarkannya. Tak ingin sedikitpun Aku berniat mengganggunya, tAkut Dia sakit hati karena Aku berusaha memunculkan wajahku didepannya.
UsahAku agar Dia memfokuskan diri dengan ujian itu semua telah sia-sia. Aku sengaja membiarkan Dia terlarut pada kegiatan belajarnya. Agar suatu saat nanti -yang Aku harapkan- Aku mendapat kabar bahwa Dia diterima di salahsatu universitas negeri di Bandung dan saat itu pulalah Aku harus membayar janji-janjiku padanya. Janji kala senja. Dengan senang hati Aku akan membayarnya. Dengan sangat senang hati. Karena peristiwa yang telah Aku dan Dia lalui, tentang sakit hati dan bagaimana Aku menyakitinya itu telah Dia lalui dengan semua ketabahan yang Dia miliki. Tapi ternyata semua yang kuyakini itu salah. Semuanya tak ada satupun yang benar.
Sambil menyelam minum air. Mungkin itulah yang selama ini menjadi jalan pikirannya. Sambil belajar sambil melupakanku sekaligus sambil mencari pengganti diriku. Ah… rasanya sangat mausiawi saja kalau Dia sampai berpikiran seperti itu. Karena, secara manusiawi pula kesabaran orang ada batasnya. Dan Aku terlalu jahat memberinya sebuah ujian. Mungkin itu terlalu berat. Terlalu berat untuk seorang kakak yang selama denganku selalu bersabar. Yah….. ini semua memang salahku, dan Aku memang selalu salah. Terlebih menyesal dengan apa yang telah kuperbuat. Tapi waktu tidak dapat kembali, ucapan tidak dapat ditarik lagi, dan batu yang dilempar tidak bisa kembali lagi. Semuanya sudah terlanjur. Tinggal bagaimana hatiku ikhlas menerima kenyataan bahwa kakakku sungguh beruntung telah mempunyai cerita yang baru. Andai saja Dia mau menceritakannya padAku, pastilah akan kuceriakan lagi lewat tulisan. Hanya lewat tulisan. Karena tangan ini takkan lelah menggoreskan namanya didalam berpuluh lembar kertas walaupun dengan kisah yang lain. Aku rela walau harus ratusan kali airmatAku berderai dan membasahi kertasnya. Dan itu akan kulAkukan, jika Dia mau. Untuk membalas semua salahku padanya.
Tulisan ini telah usai, tapi mengapa Aku masih ingin menuliskan namanya diselembar kertas. Kubayangkan juka ternyata semua yang kuanggap dan mereka anggap itu salah. Kubayangkan reaksinya ketika Dia tahu bahwa Aku galau karena Dia telah melupakanku.
“Haha…. Ga ko… siapa yang punya pacar lagi. Bodoh… Kakak sayang kamu, kan kakak janji akan selalu menyayangimu.” Katanya sambil tertawa terbahak-bahak mendengar pengAkuanku yang lugu tentang keglauan itu.
“Iiiii…. Kakak jahat!!!” jawabku malu.
“Jadi sebenarnya semua itu cuma akal bulus kamu aja buat nguji kaka?” tanyanya dengan sedikit serius dan terpancar senyum bahagia dari wajahnya seperti saat Aku mengucapkan janji kala senja.
“Nggggg…..iiiiiya… Maaf, abis waktu itu Dinda kegeeran. kirain Dinda kalo ga putus, kaka bakal ga konsen UN. Maaf ya….” Ungkapku jujur kali ini tanpa topeng.
“Justru karena Dinda putusin kaka, jadi ajah Kaka ga konsen UN.”
“Masa?”
“Ia. Karena ga konsen, jadi ajah kaka diterima di ITB. Hehe…” Candanya
“Serius, kaka diterima di universitas yang nyiptain professor-profesor itu?” Jawabku senang.
Dia tersenyum memandangiku. Lalu tanpa sadar Aku memeluknya karena bahagia. Akupun tersenyum. Lega… Bahagia… kulepaskan lagi pelukanku. Kutatap matanya, mencari-cari, tak ada raut yang kutemukan. Dia benar-benar, dia tidak berbohong. Dia benar dan Aku bahagia.
“Jadi, kapan mau nepatin janji itu?”
“Nggggg……”
Syuuuuuwww….. tiba-tiba Aku kembali kedalam kenyataan, kalau ternyata janji itu tak pernah bisa kutepati. Dan semua itu hanya angan. Yah…. Hanya harapan yang hampa.
Kini, Aku dan Dia sama-sama telah menghadapi kehidupan yang berbeda. Dia dengan wanita jilbabnya, dan Aku dengan seorang pria, yang hingga saat ini tak pernah kuberikan jawaban tentang cintanya. Biarlah Aku pria itu dan Dia dengan wanita itu. Ini yang terbaik. Untukku, dia, dan pria yang saat ini menunggu kepastian cinta dariku. Semoga kakak bahagia, dan Aku…. Ah… Semoga Akupun bahagia dengannya.. dan kelak akan kutuliskan cerita tentang Aku dan pria itu. Hingga tanganku pegal, hingga habis kata-kataku, hingga buyar pandanganku, hingga Aku tak bisa menulis lagi. Walau hingga kini Aku masih tak bisa mengikhlaskan Dia. Tapi ada satu bintang disana yang bersedia menerangiku hingga kapanpun dan Aku tak mau menyesal lagi. Semoga…..
S E L E S A I
* Cerpen ini diilhami dari kisah nyata...
by: Farahdilla Permana
"waw cerpen ini aku copast dari notesnya farahdilla, dia adalah mantan kekasih dari ka bubu. sedangkan ka bubu adalah seseorang yang telah menjadi pacarku selama 1minggu 2 hari (sampai sekarang). oh iah, aku lupa, saking lamanya aku ga pernah curhat lagi di blog ini. karena kesibukan ku yang menumpuk. dari mulai sibuk oleh olimpiade biologi dan tugas" yang menumpuk dari sekolah. oh itu membuat waktu ku tersita untuk mengetik curhatanku di blog ini.
oke, back to notesssssss
coba kalian telaah notes itu seorang wanita cantik, berjilbab
entah aku kegeeran atau apa, tapi pendeskripsian itu menunjukan bahwa itu aku
karena, pada saat itu aku sedang dekat dengan ka bubu, tapi aku belum mengikat relationship sesungguhnya dengan dia
pada saat itu kejadiannya aku hanya di gosipkan dan dijadikan tumbal oleh temannya sebagai ajang gosip terhangat
sehingga mengantarkan kami menjadi hubungan yang sebenarnya, yaitu pacaran.
oke, disini aku tidak akan mengomentari dan cerita banyak tentang cerpen ini.
aku hanya menyampaikan perasaan ku ketika aku membaca notes ini yang dibuat kira" 10 hari yuang lalu
dan aku baru membaca dan menyadarinya sekarang
sungguh cerpen ini membuat atu merasa bersalah, haru, dan kasian
farahdilla adalah teman seangkatan ku, di kelas 11 ipa 4
walau kelasnya jauh, tapi aku sangat kenal dengan sesosoknya
dia dalah wanita sastra yang terkenal di sekolah ku
aku sangat mengakui dan bangga mempunyai teman seperti dia
aku iori dengan prestasinya
tapi perasaan itu ga boleh aku tanam terlalu lama
karena kit aketahui bahwa rasa iri adalah sebuah dosa yang dapat mengurangi pahala
semua orang punya kelebihannya masing"
dia mempunyai kelebihan di dunia sastra dan aku mungkin puny akelebiah di bidang biologi
itu lah alasan yang membuat aku menghilangkan rasa iri di hati ku
aku tidak menyangka bahwa dia tau tentang kedekatan ku dengannya
dan aku tidak menginginkan ini semua terjadi
aku tidak ingin hubunganku menjadi sebuah penderitaan seseorang
aku tau walau aku tidak terlalu tau lebih dalam tentang kisah cinta yang pernah di rajuk oleh ka bubu dan dilla
tapi setidaknya aku tau bahwa hubungan mereka berakhir dengan sakit
baik dari pihak dila maupun pihak ka bubu.
aku pun kenal dengan lelaki sastra yang hobi menulis dan pusi yang di ceritakan dalam cerpen itu
laki laki itu adalah teman dekat ku sewaktu smp
mengapa semua aktor dalam kisah itu terjadi oleh orang yang dekat dengan ku
yasudah lah, masalah aktor tidak aku permasalahkan
cuma aneh s\aja
semua serasa dalam sinetron yang selalu aku anggap berlebihan dan terjadi pada ku
NYATAAAAAAA
aku ingat, pada hari aku di tembak oleh k abubu
yaitu hari jumat 19 maret 2010, aku memarkirkan motor
pada saat itu aku janjian dengan ka bubu akan menonton film di bioskop
dan aku memarkirkan motor setelah aku mengantarkan shafira ke rumahnya
dilla menatapku dan tersenyum kepada ku sambil berjalan masuk kedalam sekolah
dan dia berhenti sejenak lalu bertanya
" eh, putri kamu punya al-quran"
" hadduh, aku ga bawa quran, tapi di kelas ada quran"
" boleh aku pinjem? ada terjemahannya kan"
" oh, boleh-bleh ambil ajah ke kelas"
" oh, makasih yah putri :)"
" iah, sama-sama"
aku heran, mimik muka itu tidak biasa aku pandang
setau aku dia tidak pernah seperti itu
pandangannya punya arti lain
pandangan penyesalan kah, atau iri kah, atau apalah
aku merasa kasian dan aku merasa berasalah dengannya
tapi aku hanya bisa berharap
dia bisa mendapatkan kehidupan yang ga kalah bahagianya dari aku
setiap orang mempunyai kerikil hidup
begitupun aku dan dilla
kita teman dil, kita perempuan
dan aku pun bisa peka oleh perasaan mu
aku hanya berharap bisa dekat dengannya dan mendengarkan semua keluhannya sehingga bisa membantu kegundahan hidupnya
maaf yah, jadi komentar dan cerita panjangan hihihihihihihihiihihihi"
"Buat mputt dimanapun.....
maaf kalo sebelumnya dilla masukin mputt ke cerpen ni, karena ceritanya menarik. dan beberapa bagian di cerita ini emang bener kisah nyata, tapi sebagian besar aku karang sendiri... jadi ga semuanya bener lho putt..."
