BULAN DAN PURNAMA

  Untuk Purnamaku….
Kutulis cerita ini di bawah bulan purnama yang tenang. Dibawah bintang-bintang yang bertebaran seperti malam yang terang. Ingin sekali kuceritakan kembali kisah hidupku yang indah.  Saat aku terpejam dalam malam yang sunyi. Sangat sunyi. Seolah sunyi tak dapat terpecah oleh gelombang setinggi apapun.
Air yang basah kurasakan dingin. Seperti sunyi yang terus membayangi hatiku. Bunyi jemariku menyentuh keyboard sangat terasa. Seolah itu adalah satu-satunya sumber suara yang ada. Seirama dengan suara hatiku. Dengan kesunyian. Dengan malam yang terang.
Adakah kerinduan merasuki jiwamu?
Ketika air mata bercampur darah dan nanah merayapi jiwaku.
Duhai purnama hatiku… berapa kali kau katakan bahwa engkau mencintaiku? Dan berapa lama kita berdua melewati hari-hari penuh cinta? Tapi mengapa hatiku masih sempat goyah kala aku mendengar sapaan angin yang melukai hatiku. Tidak. Bukan itu yang menjadi kegelisahanku saat ini.  ya.. kuyakin bukan itu yang tersirat di benakku.
Lantunan lagu Agnes Monica senyap dan perlahan terdengar di telingaku.
“Karna ku sanggup walau ku tak mau. Berdiri sendiri tanpamu. Ku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku oooh kalau memang harus begitu…”
Hatiku terus mengikuti alunan lagu itu dalam malam sunyi. Kembali kurasakan kerinduan terdalamku padanya. Dan saat itu pula kurasakan keperihan hatiku yang baru saja tersayat oleh serbuan tanya yang tak pernah kau hiraukan.  Ahhh….. tidak tidak. Aku tak pernah merasakan ini. aku tak ingin sedikit pun merasakan sunyi ini.
Kulihat lagi purnama yang terang. Kulihat lagi bintang-bintang bertebaran seperti malam. Kuingat dirimu indah dan aku tak mau keindahan itu tergantikan oleh semua kesunyian malam ini. Purnamaku, sungguh aku mencintaimu sepenuh jiwaku. Aku merindukanmu sepenuh hatiku. Purnamaku, kau tahu? Bahwa aku ingin sekali kau mengerti. Aku memang tak menyalahkanmu atas semua yang telah menimpaku. Aku hanya mencintaimu dan takut kehilanganmu.
Kuingat lagi kala kita berdua sedang bercanda dalam ramainya suasana kota. Saat hujan turun sangat deras dan kita tak bisa pulang. Purnamaku, kau tahu? Saat itu aku berharap kalau hujan tak akan berhenti. Agar aku dapat merasakan aroma tubuhmu lebih lama lagi. Walau hujan turun deras, sungguh tak sedikit pun ketakutan hinggap di benakku. Sungguh ini bukan rayuan gombal, karna aku tak pandai merayumu. Ahhh…. Sayangnya kau terus mendesakku agar cepat pulang. Hari sudah sore, katamu. Nanti mama marah, ingatmu. Besok harus sekolah, perintahmu. Yayaya…. Aku mengerti betapa perhatiannya dirimu padaku. Aku tahu, mungkin kau takut aku dimarahi mama. Dan aku sangat tahu, bahwa sebenarnya kau ingin lebih lama lagi berada disisiku, kan?
Berada lebih lama? Atau hanya ingin terus melihat keluguanku? Ahhh…. Itu tak mungkin. Rasanya mustahil bila engaku ingin melihat keluguanku ini. mungkin kau tak pernah menganggap aku lugu. Karena disampingmu, aku selalu ingin tersenyum selebar yang aku bisa.
Purnamaku, berapa kali kita bertemu? Berapa kali kita berpisah. Ahh… mungkin kau sudah lupa tentang itu. Tapi kau harus tahu, bahwa aku tak peduli sejarang apa kita bertemu dan sesering apa kita berpisah. Aku hanya peduli seberapa lama namamu tinggal dalam hatiku.
Satu tahun sudah kita melewati hari-hari penuh cinta. Tapi tak pernah sedikit pun kau berkata: “Maukah kau menjadi pacarku?” dan aku tak pernah bosan untuk menunggu itu keluar dari hatimu. Tapi, kau tahu? Betapa sakitnya kala aku mendengar kau telah mengatakan itu pada perempuan lain. Bukan aku!
Sia-sia sudah semua kesabaranku padamu satu tahun ini. sia-sia sudah kata-kata manismu satu tahun ini. Dan kau tahu? Aku paling menentang pecundang seperti dirimu. Tapi mengapa aku masih tetap mencintaimu sepenuh hatiku. hingga saat ini. saat malam sunyi tak bisa ku elakkan lagi kesunyiannya. Dan air yang basah adalah airmataku yang jatuh beribu kali. Aku sangat mencintaimu, tapi mengapa kau membalas cintaku seperti ini?
Purnamaku? Bila kau ingin pergi, pergilah! Jangan pernah ada lagi dalam malamku sedikitpun. Biar kurasakan bintang-bintang dilangit tanpa dirimu. Biar aku rasakan malam gelap tanpa dirimu. Hingga airmataku sendiri yang membuatku meninggalkan bintang-bintang itu.

0 komentar:

Posting Komentar