demi langit
Tatkala goresan semangat terukir diatas kertas kertas kaku
Menyembur
Mengelupas tulisannya
Tatkala meja meja bisu ,tiang tiang berkarat menjelma jadi hantu dipenghujung tahun.
Aku melangkah pasti
Kemanapun pasti dinding kesunyian.
Aku berteriak pasti.
Dimanapun pasti kutemukan gemanya!
Demi air
Aku haus ilmu!
Lewat sesal ,lewat sesal,lewat kesal..aku tak pernah asal!
Aku melangkah pasti
Melewati dinding dinding sunyi..
Wahai matahari.Kelak!
Kau tau..
Aku adalah 6 merpati disangkar emas.
Aku akan terbang dan terbang jauh membawa sebilah belati di kiri ku dan segenggam emas di kanan ku!
followers
ASAS Matahari
Diposting oleh KREASI KATA di 20.38 0 komentar
Label: Puisi
BIOGRAFI CHAIRIL ANWAR
Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
Selengkapnya
Diposting oleh KREASI KATA di 20.55 0 komentar
BIOGRAFI WS RENDRA
Nama Pena:
WS Rendra
Nama Asal:
Willibrordus Surendra Broto Rendra
Nama Setelah Memeluk Islam:Wahyu Sulaiman Rendra
Memeluk Islam : 12 Ogos 1970
Seniman ini mengucapkan dua kalimat syahadah pada hari perkahwinannya dengan Sitoresmi pada 12 Ogos 1970, dengan disaksikan dua lagi tokoh sastera Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.
Gelaran: Si Burung Merak
Julukan si Burung Merak bermula ketika Rendra dan sahabatnya dari Australia berlibur di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta. Di kandang merak, Rendra melihat seekor merak jantan berbuntut indah dikerubungi merak-merak betina. “Seperti itulah saya,” tutur Rendra spontan. Kala itu Rendra memiliki dua isteri, iaitu Ken Zuraida dan Sitoresmi.
Diposting oleh KREASI KATA di 20.39 0 komentar
Label: Biografi Tokoh
SASTRA MELAYU
haiihaiii
ini dia nih pelajaran disekolah yang sering keluar di UN. So... daripada nanti bengong mikiri mending baca dulu sekilas deh...
Diposting oleh KREASI KATA di 19.09 0 komentar
Label: Pengetahuan Sastra
BULAN DAN PURNAMA
Diposting oleh KREASI KATA di 18.37 0 komentar
Cara menulis cerpen yang baik
Diposting oleh KREASI KATA di 06.50 0 komentar
Label: TIPS
HITAM
Diposting oleh KREASI KATA di 06.44 0 komentar
Label: CERPEN PEMENANG LMCR 2009
PATUNG IBU
Oleh Ahmad Ijazi H
Entah sudah kali keberapa Tania melihat patung itu dari dekat. Patung seorang wanita. Diletakkan di sudut ruang tamu. Patung itu belum jadi. Hanya bagian wajahnya saja yang sudah berbentuk, itu pun masih kasar. Sedangkan bagian tubuh yang lain belum berbentuk sama sekali. Sekilas wajah patung itu mirip dengan wajah ibu. Hampir enam tahun patung itu diletakkan di tempat itu tanpa seorang pun berani menyentuhnya.
Tania heran. Patung itu patung terjelek yang pernah dia lihat. Tapi diletakkan di tempat terhormat, ruang tamu. Padahal Tania tahu, di rumah ini ada beberapa patung yang bentuknya jauh lebih bagus dari patung itu. Tapi tak pernah dipajang di ruang tamu.
Patung itu pahatan ayah. Ayah memang mahir memahat sejak SMA. Walau pun akhirnya ayah menjadi anggota TNI Angkatan Laut, dia tetap gemar memahat saat ada kesempatan. Banyak patung-patung hasil pahatan ayah menghiasi rumah ini.
Diposting oleh KREASI KATA di 06.41 0 komentar
Label: CERPEN PEMENANG LMCR 2009
MENCARI WAJAH IBU
Belakangan ini, bocah itu sering meneliti wajah-wajah yang lewat di hadapannya. Orang-orang yang berjalan kaki melewatinya atau pun yang duduk di dalam mobil-mobil yang ia ketuk kaca jendelanya. Tono sedang mencari ibunya, wanita yang melahirkannya. Entah ada di mana ia sekarang. Tono berharap bisa mengenalinya di antara wajah-wajah wanita yang ditemuinya setiap hari. Harapannya, suatu hari nanti ia akan bisa menemukannya. Mungkin… Bila ia berusaha keras.
Menurut cerita orang-orang di tempat tinggalnya, Tono dibuang saat masih bayi, sembilan tahun yang lalu. Tak ada yang pernah melihat wajah ibunya. Tak ada yang tahu. Mbah Upik yang membesarkannya dan Mang Asep yang menanggung seluruh biaya hidupnya selama ini. Kalau bisa dikatakan seperti itu. Soalnya sejak bayi hingga sekarang Tono telah ikut Mbah Upik mengemis di mana-mana.
Diposting oleh KREASI KATA di 18.50 0 komentar
Label: CERPEN PEMENANG LMCR 2009





