Buta

“Happy Birthday Luna…Happy birthday Luna…Happy birthday… Happy birthday…Happy birthday Luna…”
Nyanyian itu seolah mengantarkannya pada hari dimana dia harus pasrah akan segala yang tengah menimpanya nanti. Disaat dia tengah terbaring di tempat tidur itu. Di kamar yang pengap dan bau obat-obatan. Rasa sesak yang amat dalam mengahantuinya yang kini tengah tertidur pulas karena obat bius itu. Tapi sepertinya dia masih sadar, dia masih bisa merasakan hangat sahabatnya, keluarganya, dan semua yang menyayanginya. Mereka ada di ruangan ini. Yah… mereka sahabatnya termasuk aku sedang menyanyikan selamat ulang tahun untuknya sambil bercucuran airmata. Sementara Ibu, sedang duduk dikursi sebelahnya, memegang tangannya dan berkata “Selamat Ulang Tahun Anakku…”seraya menitikkan airmata.
Suasana itu tiba-tiba berubah. Dia seperti merasakan suara gelinding roda yang ditarik dari kebahagiaan itu tengah menjemputnya pada sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan medis yang sangat canggih. Ya… ruang operasi... Tempat dimana dia harus tertidur dan mungkin takkan terbangun lagi.
Ini semua karena pertengkaran itu. Pertengkaran yang membuat Luna marah padaku. Kemudian Luna meninggalkannku dengan nada kesal. Luna melempari senyum. Senyum yang tak layak untuk dikatakan senyum. Sementara Aku megejarnya. Aku berteriak…AWAS!!!! Luna terjatuh. Terlempar dari lantai dua rumahnya. Luna tersungkur dilantai dan dia tak tahu apa yang tengah menimpanya kemudian.


Kini dia harus menjalaninya. Dia harus mampu melewati operasi ini. Tertangkap oleh benaknya rasa penyesalan datang silih berganti dari tiap-tiap ujung hidupnya. Aku melihatnya dari sela kaca ruang operasi. Mukanya pucat pasi. Dari sisa nafas yang mungkin takkan panjang lagi. Dalam hatinya dia menagis.
Tiba-tiba Luna merasa sepi. Ada sesuatu yang lain yang tengah Luna rasakan. Sesuatu dari alam yang lain. Sesuatu yang tengah menghilangkan sebagian alam bawah sadarnya. Luna merasa gelap. Tak ada cahaya yang masuk dalam alam bawah sadarnya. Keringat bercucuran dari dahinya. Oh… Apakah ini yang dinamakan sakaratul maut? Tiba-tiba Luna berteriak. “Aku tidak ingin mati… jangan dekati aku... Aku belum mau mati...” Luna berteriak lagi dan dia tersadar.
“Tenang… tenang… kamu tidak akan mati karena suntikan ini Luna. Kamu tidak akan mati karena aku mendekatimu.” Kata seorang pria yang menggunakan jubah putih.
“Kamu siapa?” Tanya Luna ketakutan.
“Saya ini seorang dokter, yang tadi mengoperasimu.” Jawab seorang dokter sembari membuka maskernya.
“Dokter... Dok, aku tidak bisa melihat? Mengapa rasanya gelap?” katanya heran.
“Kamu baru saja mengalami operasi mata. Karena mata kamu terbentur benda keras” jawab dokter.
“Jadi aku akan buta? Dokter...dok...” Nyaris. Dia kembali lagi ke alam bawah sadarnya. Dia tak pernah tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.
Hingga pada hari itu, hari dimana Luna membuka penutup matanya. Dia nyaris tak sadarkan diri. Ketika dirinya mendapati berada ditengah kerumun orang-orang terdekatnya. Ingin mengharapkan kesembuhan terjadi padanya. Begitupun aku.
“Nah... Luna, sekarang saya akan membuka balutan yang menghalangi matamu. Kamu siap, Luna?” seorang pria membuyarkan lamunanku.
“Siap, dok.”Jawab Luna. Kemudian dokter itu membuka perban yang menutupi matanya. Dan Aku hanya melihat dari jauh. Melihatnya, dan berdoa untuk kesembuhannya.
“Buka matamu pelan saja...” Ujar dokter yang menangani Luna.
Luna membuka matanya sesuai dengan ucapan sang dokter. Luna membuka matanya dengan pelan.
“Luna?? Kamu bisa melihat saya?” sapa dokter pria itu.
Luna terdiam. Tiba-tiba dia menjerit. Dia menangis. Dia menangis sejadi-jadinya.
“Luna…”sapa ibunya.
“Aku tidak bisa melihat, Bu...Aku tidak bisa melihat. Aku buta.” Dia menangis sejadi-jadinya. Dia berteriak sekeras-kerasnya. Disisi lain saudara, orang tua, dan sahabatnya termasuk akupun menangis. Sementara sang dokter menenangkan Luna. Namun dia tetap menjerit.
Kini dia tengah duduk di kursi taman rumahnya. Ditemani kupu-kupu indah yang tak kan bisa Luna lihat keindahnnya. Hanya bisa merasakannya. Daun-daun berguguran seperti gugur hatiku melihat Luna seorang diri. Sisa-sisa air dari langit yang membasahi rerumputan seolah menghujani diriku. Menghujani aku yang tengah merasa bersalah pada Luna. Aku sahabatnya, tapi aku seolah bukan sahabatnya. Sahabat macam apa aku ini?? Membiarkan Luna dalam kesedihan seorang diri.
Aku menghampirinya. Dekat sekali dengannya dan aku melihat wajahnya. Dia sangat pucat, matanya berkantung tebal. Bibirnya kering, rambutnya terikat alakadarnya. Tubuhnya sangat kurus.
“Luna...” Sapaku seraya mengusap bahunya dengan perlahan. Dia membalik ke arahku.
“Rama…”ucapnya lirih.
“Ya, Lun. Ini aku. Maafkan aku Lun. Gara-gara Aku, Kamu harus nengalami nasib seperti ini” Ujarku menyesal.
“Ini takdir. Aku ikhlas kok.” Ucapnya sembari tersenyum.
Luna tersenyum, tapi mengapa senyumnya tak sebebas dulu. Seperti ada sesuatu yang menghalangi senyumannya. Akh… aku merasakan perbedaan yang amat derastis dalam dirinya. Ini semua karena aku. Karena kejadian itu!!! Luna maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini. Aku sangat tak percaya, dengan semua yang telah menimpamu. Aku berjanji Luna. Aku akan menjadi kedua bola matamu hingga kau benar-benar mendapatkan kedua matamu. Aku akan mencarikannya untukmu. Aku berjanji. Demi tuhan aku Berjanji!
“Rama... kamu masih mau menjadi sahabatku, kan?” ucapnya tegar.
“Kamu bilang apa Luna. Aku akan menjadi sahabatmu sampai kapanpun. Kamu ga boleh bicara seperti itu. Aku ga akan pernah rela kamu bicara seperti itu. Karena aku sayang kamu.” Jawabku sembari duduk di sebelah Luna.
“Kamu ga malu punya sahabat yang buta seperti aku? Aku kan udah ga berguna. Aku buta. Karena aku buta, aku ga bisa berbuat apapun. Bahkan untuk makan pun harus disuapi. Aku udah ga berguna lagi. Aku cuma benalu yang hidup diantara orang-orang terdekatku.” Jawabnya. Luna menangis namun tak tampak airmata yang keluar dari matanya. Aku ditampar oleh kata-kata yang sangat menyayat hatiku. Entah apa yang membuat diriku menjadi tak berkutik. Rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Sesak, ada sesuatu yang mengganjal dibenakku.
“Tidak, Lun. Bukan berarti karena kamu buta, kamu ga bisa berbuat apapun. Ada aku yang akan selalu menjadi matamu. Aku berjanji. Aku ga akan pernah ninggalin kamu.” Jawabku sambil menahan sesak yang terus menjadi.
Luna terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa, tapi yang jelas pikirannya tak ada disini
“Dulu, waktu mata ini masih bisa kugunakan. Aku tak pernah menggunakannya dengan baik. Aku ga pernah baik sama kamu, kan? Aku selalu membuatmu marah?” tanyanya seraya menoleh kearahku. “Aku bahkan tak pernah menggunakan mata ini untuk membaca Al-Qur’an, bahkan untuk melihat air wudhu pun tak pernah. Setelah beberapa tahun lamanya aku hidup. Mungkin Tuhan benar. Untuk apa aku punya mata, jika tak kugunakan semestinya???” ujarnya kemudian.
Aku dan Luna menelusuri pikiran kita masing-masing. Mengingat kisah dahulu yang mungkin indah. Tapi, aku merasa asing, tatkala aku memasuki dunia itu. Dulu, Luna memang sangat memprihatinkan. Setelah ayahnya meninggal, dia jadi sangat terpukul. Dari sanalah, pergaulan Luna menjadi tak terkontrol.
“Luna...” Seorang wanita berjilbab menepuk punggung Luna, kemudian memeluknya. Rasa rindu dan kesedihan tercurahkan dalam peluknya. Pelukan yang sangat mengharukan. Pelukan bahagia, tapi ada kesedihan tersirat disana. “Ini aku, Ana.” Tambahnya kemudian sambil melepaskan pelukannya.
“Ana?” ujarku heran. Aku memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga kepala. Seorang Ana sahabatku, kini berjilbab. Sesuatu menghentak jiwaku. Baru saja kudengar penyesalan-penyesalan Luna, sekarang kutemukan jawabannya.
“Lun, mungkin ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu tadi. Tuhanmu masih memberi kesempatan untuk bertaubat.” Ujarku. Ana heran. Sementara Luna terdiam.
“Tapi, aku? Pantaskah aku bertaubat. Tuhan mungkin takkan menerima taubatku.” Jawabnnya dengan nada putus asa.
“Kamu salah, Lun. Allah itu maha pengampun. Kalau kamu mau bertaubat, aku siap membantu.” Sanggah Ana yang sedari tadi heran dengan apa yang Aku dan Luna katakan.
“Aku ragu. Tapi aku…”
“Sudah… jangan banyak dipikirkan. Ayo kita berwudhu!” tapis Ana sambil membawa Luna masuk kerumahnya.
Luna dan Ana mengambil air wudhu, shalat, dan mengaji. Kuperhatikan dari jauh. Mereka sangat menyejukkan. Mereka sahabatku memang selalu damai. Tidak seperti aku dan Luna yang sering bertengkar. Mungkin karena banyak sekali perbedaan-perbedaan yang membuat kami selalu berbeda pendapat. Mulai dari jenis kelamin, usia, bahkan keyakinan. Ya... Aku dan Luna berbeda agama. Tapi, aku yakin perbedaan itu takkan membuat persahabatan kami terpecah.
Usai mereka melakukan ritual keagamaannya, Aku dan Ana pamit pulang karena hari sudah semakin sore. Diperjalanan, banyak sekali yang Ana ceritakan padaku. Dan aku ceritakan padanya. Kami saling bertukar cerita. Menarik, apalagi percakapan kami terkadang terputus karena bisingnya suara kendaraan dan deru mesin dijalan. Hal itu yang membuat Ana harus mengulang ceritanya berkali-kali. Suara mesin dan knalpot semakin bising. Membuat kepalaku menjadi sedikit pusing. Lama-lama kepalaku menjadi sangat berat. Aku memberhentikan motorku ke pinggir jalan. Tampak jelas wajah Ana heran.
“Mungkin hanya sakit kepala biasa.” Ujarku menjawab keheranan Ana. Tak lama kemudian Aku dan Ana melanjutkan perjalanan. Sudah hampir sampai rumah Ana. Sekitar beberapa kilometer lagi. Tiba-tiba sakit kepalaku semakin menjadi. Kali ini aku tak bisa mengontrolnya. Rasa sakit itu membuyarkan pandanganku. Aku jadi tak bisa melihat dengan jelas jalan dan kendaraan-kendaraan. Tiba-tiba Ana berteriak “Inalillahi!!!”
Kecelakaan itu tak bisa ku hindari. Setelah aku melewati batas jalur kendaraan ke arah rumah Ana menuju arah rumah Luna, tiba-tiba sebuah mobil sedan mini dengan kecepatan tinggi menabrak motorku. Dan aku tak sadarkan diri.
Ketika tersadar, aku sudah ada diruang UGD sebuah rumah sakit. Disebelahku, Ana menagis. Tapi tak kulihat sedikitpun memar atau luka ditubuhnya.
“Ana, kamu tak apa-apa?” ujarku. Membuat tangisan Ana berhenti.
“Rama. Aku baik-baik saja. Sudah tiga hari kamu disini. Akhirnya kamu sadar juga” Jawabnya.
“Mengapa kamu menagis?”
“Aku…hanya...”Jawabnya ragu. “Aku…ingat Luna.” Tambahnya kemudian. Tersirat dari tetesan airmatannya, ada sesuatu yang Ana sembunyikan dariku.
“Luna tahu kalau aku ada disini?” tanyaku cemas.
“Tidak. Aku tidak memberitahukannya pada Luna. Aku takut dia malah semakin terpukul.” Jawabnya seraya menghapus sisa-sisa airmata yang terus berjatuhan tanpa henti. “Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang penyakitmu, Rama?” Tanya Ana sembari menitikkan airmata. Membasahi pipinya yang telah kering oleh sapuan tisu yang sedari tadi dipegangnya.
“Penyakit?? Penyakit apa? Selama ini aku baik-baik saja.” Jawabku heran.
“Jadi selama ini kamu tak tahu?” Tanya Ana lebih membuatku heran. “Kata dokter kamu terkena kanker otak.” Ujarnya lesu. Aku terdiam, terhentak oleh sebuah kata “Kanker.” Penyakit ganas yang pernah membuat adik perempuanku meninggal dunia. Tiba-tiba aku dicekam kesunyian. Entah dari mana sunyi itu menerjal. Seperti sesuatu yang tengah aku rasakan ketika aku mendapati tubuh Luna terbaring diruang operasi tempo hari. Sunyi itu terus menggerogoti jiwaku, menampar-nampar perasaanku. Membuat lemas tubuhku, dan membuatku masuk kedalam alam bawah sadarku.
Sebuah titik putih membawa memoriku masuk kedalamnya. Ada aku mengenakan peci dan baju koko berwarna putih. Mengangkat tangan seraya mengucap takbir. “Allahuakbar!” Titik putih itu adalah sesuatu yang asing bagiku. Sesuatu yang tak terbayang sebelumnya. Mengenakan baju koko, mengenakan peci dan mengangkat tangan seraya mengucapkan kalimat takbir yang tempo hari aku dengar sewaktu Ana dan Luna sembahyang?
“Aku ingin masuk Islam. Aku Islam….” Teriakku dan aku kembali tersadar.
“Subhanallah…” sebuah suara menghilangkan titik putih itu menuju warna-warna terang yang membawa kesadaranku. Suara Ana sekali lagi terdengar memanggil namaku.
“Rama, kamu mengigau??” Tanya Ana dengan mata bersinar. Sinarnya hampir mirip dengan sinar yang membawaku pada titik putih dimana aku tengah sembahyang.
“Ana, Aku ingin menjadi agamamu.” Jawabku tegas. Ketika aku berkata demikian. Entah apa yang membuat hatiku tenang.
Aku mengucapkan kalimat syahadat yang disaksikan oleh Ana, seorang dokter dan seorang suster. Kala itu aku tak mengerti apa yang membuat hatiku kokoh memegang teguh kalimat-kalimat syahadat itu. Tiba-tiba sesuatu membuat dadaku sesak. Seperti ada yang mencekik leherku. Sakit kepala terjadi dengan sangat luar biasa. Aku meraung kesakitan. Aku menjerit. Aku tak tahan dengan semua ini. Kemudian sang dokter mempersilakan Ana keluar ruangan, tiba-tiba aku merasa gelap. Mulutku berkata seperti ada yang menggerakkan sendiri. Tapi aku yakin kalau itu adalah keinginan hatiku. Kemudian sang dokter mengangguk. Dan semuanya menjadi gelap.
“Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun.”
Ana bingung, sedih dan hampir putus asa. Perasaannya kini campur aduk. Namun untunglah dia wanita yang amat tegar. Dia mencoba mencari cara memberi tahu musibah ini pada Luna. Dan akhirnya, Ana temukan solusinya. Ana tidak akan memberitahu Luna hingga proses pemakaman selesai. Entah apa yang menyebabkan dia tidak ingin memberitahukannya terlebih dahulu. Tapi yakinlah Ana tak kan mungkin mengambil tindakan yang beresiko tinggi.
Penguburan jenzah Almarhum Rama dilakukan secara Islam. Walaupun keluarganya menentang habis Ana, tetapi wanita satu ini hafal benar bahwa Rama meninggal dalam keadaan Islam. Segala konflik banyak dilalui oleh Ana. Namun Ia tak pernah menyerah. Hingga Ia mendatangi sang dokter dan suster yang dulu menyaksikan Rama mengucap syahadat. Ia berfikir agar sang Dokter mau memberikan kesaksian tentang keislaman Rama. Setelah berdebat dengan sanak saudaranya Rama, akhirnya Almarhum Rama dimakamkan secara Islam.
Dua hari setelah pemakaman jenazah Rama, Ana hendak pergi ke rumah Luna. Bukan untuk memberitahukan musibah yang menimpa Rama dan keluarganya, tetapi untuk memberitahu kabar baik bahwa ada seseorang yang mendonorkan matanya terhadap Luna. Mendengar hal ini Luna sangat gembira. Akhirnya pada hari itu pula Luna dan Ana bergegas menuju Rumah sakit untuk proses penanaman donor mata tersebut.
“Na, emang orang yang mau ngedonorin matanya itu siapa? Baik sekali. Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya.” Tanya Luna dengan sangat bersemangat ketika mereka telah sampai di rumah sakit tersebut.
“Orangnya sudah meninggal.” Jawab Ana sembari menyembunyikan airmata yang menggenangi matanya. Ana sangat tak tahan dengan semua kondisi ini. Dia ingin sekali berterus terrang tentang semua yang sedang menimpanya saat ini pada Luna. Tapi Ia tak mau membuat Luna terpukul.
“Eh...udah Lama Lho si Rama ga main kerumah. Dia kemana ya? Apa jangan-jangan mata ini yang mencarikannya Rama? Sampai-sampai dia ga bisa maen bentar aja kerumah. Dia baik ya?” Ujarnya panjang lebar.
Ana hanya bisa menjawab Ia. Dia hanya bisa diam. Sedikit-sedikit airmatanya mulai keluar. Dia ingin memeluk sahabatnya dan mencurahkan semua kepedihannya. Tapi dia tak ingin membayangkan reaksi Luna saat itu. Akhirnya dia memilih diam
“Ana... Aku sebenarnya udah lama suka sama Rama.” Ujar Luna. Mendengar hal itu Ana semakin tertekan. Dia bingung akan menjawab pernyataan Ana dengan seperti apa.
Ketika hal itu terus Luna tanyakan, untunglah seorang dokter yang tempo hari mengoperasi Luna telah datang. Sehingga Ana tak perlu lagi mencari-cari alasan untuk mengalihkan pembicaraannya.
“Pagi Luna. Apa kabar?” Sapa seorang dokter pria yang berkaca mata itu.
“Kabar baik. Sangat baik.” Jawab Luna dengan penuh semangat.
“Wah semagat sekali. Sepertinya kamu sudah siap untuk kembali melihat lagi.” Jawab seorang dokter sembari tersenyum.
“Ia Dok, aku siap.” Jawab Luna. “Dok, kenalin. Ini sahabatku namanya Ana.” Ujarnya kemudian.
“Oh... Jadi, Ana ini sahabatmu. Kami sudah saling kenal sejak….”
“Sejak Aku diberitahu dokter tentang hal ini, kan, Dok?” potong Ana sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang Dokter pertanda agar sang dokter membenarkan perkataannya. Dalam pikirannnya Ia selalu ketakutan. Ia cemas akan hal ini. Jangan sampai dokter itu bicara bahwa Ia sudah mengenalnya sejak Almarhum Rama dirawat disini.
“Iii…iia…” Jawab Dokter ragu.
“Dok, sepertinya Dokter harus memulai pencocokkan mata untuk Luna. Karena sepertinya Luna sudah tidak sabar.” Sanggah Ana mengalihkan pembicaraan.
“Yasudah kalau begitu Ana boleh menunggu diluar saja!” Ucap Dokter mempersilakan Ana meninggalkan ruang prakteknya.
Setelah beberapa lama Ana menunggu. Muncullah Luna bersama Sang Dokter dari balik pintu ruang pemeriksaan.
“Ana… Matanya cocok.” Ucap Luna sambil memeluk sahabatnya tersebut. Terpancar kebahagiaan dari sorot matanya. Luna sangat gembira. Begitupun Ana. Hal ini membuat Ana sejenak melupakan musibah itu. Beban-beban itu seperti terlepas begitu saja tanpa Dia ceritakan pada Luna. “Besok Aku udah mulai operasi. Dan seminggu lagi, Aku udah bisa melihat.” Luna tersenyum bahagia. Senyum yang indah. Yang amat Ana rindukan sebelumnya.
“Syukurlah… Selamat, Ya!” Ujar Ana.
“Ia… Ayo kita pulang. Aku sudah tak sabar ingin segera memberitahukan Ibu tentang hal ini.” Jawabnya penuh semangat. “Oh ya… Aku akan memberitahu Rama juga lewat telepon.” Tambahnya kemudian.
Ketika Luna hendak mengambil telepon genggamnya dari dalam tas, Ana segera mengambil tas Luna.
“Jangan dulu, Luna. Kita jadikan ini kejutan buat dia. Nanti seminggu lagi kita samperin kerumahnya.” Jawab Ana menutupi semua yang telah menimpa Rama.
“Ide bagus. Tapi, apa Rama tak akan curiga?” Tanya Luna kemudian.
“Ga koq… percaya deh!”
Seminggu telah berlalu. Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan bagi Luna. Karena diruangan ini, Luna akan membuka balutan perban yang menghalangi matanya. Semua yang ada disini sangat cemas. Apalagi Ana. Kecemasannya bukan karena Luna akan membuka perban dimatanya, tapi karena dia takut akan hal yang hendak dia bicarakan pada Luna nanti.
Seperti saat Luna hendak membuka perban mata pertama kalinya, Sang Dokter menyuruh Luna untuk membuka matanya pelan-pelan. Luna membuka matanya sesuai dengan ucapan sang dokter. Pelan-pelan Luna membuka matanya. Tiba-tiba sebuah cahaya timbul tenggelam. Disusul dengan serbuan warna-warni. Kemudian samar-samar Luna melihat sesosok jubah putih membawa statoscpoe. Luna melihat sekelilingnya. Ibu, kakak perempuannya, saudara-sadaranya, suster, dokter dan Ana.
“Luna…” Sapa Ibu yang sangat mencemaskan Luna sedari tadi.
“Ibu…Luna sekarang bisa melihat Lagi, Bu…” Luna memeluk Ibunya. Ibu Luna menangis haru. Begitupun yang Lainnya. Luna menghampiri Ana dan memeluknya. Luna tersenyum. Tapi Ana tak membalas senyumannya.
“Ana?? Kamu ga seneng Aku udah bisa melihat lagi??” Tanya Luna heran.
“Kamu bilang apa sih?? Aku seneng banget. Sampai-sampai Aku ga percaya.”
“Ah. Kamu ini..!” Jawab Luna.
Sekali lagi Luna memeluk Ibunya. Memeluk kakaknya dan semua yang ada diruangan itu termasuk Dokter dan Susternya. Dia sangat bahagia. Sorotan matanya, senyumnya, gerak-geriknya penuh semangat. Hal ini membuat Ana sangat khawatir. Dia tak mau membuat Luna kembali bersedih. Dia tak mau melihat Luna menagis lagi. Karena baginya sudah cukup penderitaan yang selama ini Luna alami.
Ketika Luna hendak pulang. Ia teringat sesuatu. Rama. Ia meminta Ana untuk mengantarkannya kerumah Rama saat itu juga. Sekali lagi Ana sangat cemas. Dengan menggunakan motor matic-nya, Ana mengajak Luna ke suatu tempat. Diperjalanan, Luna terus saja membayangkan bagaimana reaksi Rama. Hingga dia tak tahu bahwa jalan yang dia lalui bukan menuju rumah Rama melainkan menuju tempat peristirahatan terakhir Rama.
“Kok kita ke Kuburan sih!” Seru Luna.
“Ia.” Jawab Ana cemas.
“Kenapa ke kuburan? Kan kita mau kerumah Rama!” seru Luna kemudian.
Ana terdiam
“Oh… kamu mau ngajak Aku ke kuburan Ayahku, ya? Ide bagus tuh… Aku kan udah lama ga kesini lagi.”
Langkah Ana berhenti, begitupun Luna. Tepat didepan mereka, Luna melihat sebuah nama dan tanggal lahir yang terukir di batu nisan itu. Nama yang tak asing buat Luna. Dia mengusap batu nisan itu, kemudian menangis. Tak tampak senyum dan kebahagiaan yang baru saja muncul.
“Kenapa Rama ninggalin Aku! Dia kan udah janji ga akan pernah ninggalin aku. Kenapa harus Rama yang mati?? Kenapa harus dia? Kenapa ga aku aja??” Sesal Luna.
“Rama ga ninggalin kamu, Lun. Dia tetap ada dalam diri kamu. Mata itu, adalah mata Rama. Dia ingin menjadi matamu selamanya. Dan itu dia lakukan.” Ujar Ana menjelaskan dengan ragu.
Luna terdiam. Tak lama dia tertawa. Dia tertawa keras. Dia menagis, dian tertawa. Dia memukuli dirinya sendiri. Kemudian dia berkata.
“Jangan dekati aku!! Hahaha… kalau kalian dekati aku kalian akan mati!!!”
“Lun...Luna… istighfar Lun. Kamu??” Ana menggoyang-goyangkann tubuh Luna. Tapi Luna tetap demikian. Dia mendorong tubuh Ana, hingga terjatuh seraya berkata “Jangan sentuh aku!! Nanti kamu akan mati!! Sana pergi!! Hahaha…”
Ana terus mendekati Luna, dan memegang tubuhnya. Hendak membawanya kedalam sebuah taksi. Namun dia terus meronta-ronta dan berkata demikian.
“Jangan dekati aku!! Hahaha… nanti kamu bisa mati…” Seru Luna.
Luna yang malang. Kini harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa karena kejiwaannya terganggu.

0 komentar:

Posting Komentar