Na

       Di depan gerbang sekolah, aku menunggu. Hari masih subuh, dan dinginnya kampungku masih menyimpan tanda tanya dihati. Tentang ayah.. ya.. ayah. Akhir-akhir ini sifatnya menjadi semakin aneh saja. Malam tadi Ayah pulang dalam keadaan mabuk dan menamparku, “Dasar anak perempuan tak tahu diuntung! Kau sengaja menjual diri untuk si berandalan Tomi itu! Kau telah digunjingkan oleh tetangga.” Kalimat itu terucap dari mulutnya, Padahal jelas saja si Tomi Brengsek itu yang nyaris memperkosaku, dan memfitnahku terang-terangan didepan warga. Begitu teganya Ia menamparku di depan teman kencannya, tanpa basa basi merekapun masuk ke kamar setelah puas menganiayaku, Huhft …
        Peristiwa demi peristiwa mulai merasuk pikiranku, menggerogoti hayalanku. Hingga tak terasa air mata bergulingan dipipi. “Mengapa kau menangis, Dik?” spontan kuhapus air mata dengan lengan bajuku, suara itu sudah tak asing lagi di telingaku. “Ada apa, Ra? Tak biasanya kulihat kau semurung ini.” Tanya seorang pria yang akrab kupanggil Kak Rio. 

        Aku tetap diam dan tak bisa berkata apapun. Seharusnya ini waktu yang tepat untuk mengutarakan semua masalahku pada Kak Rio. Bukankah ini yang Aku mau? Bertemu dengan Kak Rio dan mencurahkan segala masalahku agar dia bisa membantuku.
        “Nara mau cerita sama Kakak? Siapa tahu Kakak bisa membantu.” Tanyanya sekali lagi seolah dia tahu apa yang tiba-tiba terbersit dipikiranku.
        “Emangnya gak apa-apa kalau Nara cerita?”
        “Udahlah cerita aja, kebetulan aku datang terlalu pagi.”
        Tanpa berpikir panjang lagi, Aku menceritakan semua perkara-perkara dari a sampai z. Tak satupun yang terlewatkan. Semakin deras airmata berjatuhan bebas dipipiku. Seketika itu Aku dibanjiri tangisan yang amat dahsyat. Jika bisa kukatakan, inilah tangisan terhebatku sepanjang hidup. Kak Rio menempelkan tangannya dipipiku dan menghapus air mataku dengan lembut.
        “Hmmm…. Ra, masalahmu rumit banget. Maaf, ya! Aku gak bisa membantumu.” Dia melepaskan tangannya dari pipiku. Kembali air mata itu bercucuran membasahi pipiku, dengan sekejap Isak tangisku bercampur aduk dengan rasa kekecewaan yang amat sangat. Bukan perasaan takut dan gundahlah yang membuat tangisan ini kembali berderai, tetapi kecewa!!
Kak Rio memengang tanganku erat, seraya berkata :
        “Kak Rio janji deh, akan mengajakmu ke Pak Kiayi Halim. Rumahnya gak jauh dari sini. Setelah urusanku selesai, aku akan mengantarmu kesana. Nara sabar, ya?”
Aku mengangguk. Perasaan kecewa itu tiba-tiba berubah menjadi sedikit tenang. Kak Rio menempelkan lagi tangannya dipipiku dan menghapus air mataku pelan.
         “Udah..Jangan nangis lagi! Tuhan sedang mengujimu.”
        Aku tersenyum tipis. Kak Rio membalas senyumku dengan senyuman khasnya yang mempesona.
*
        Seperti janjinya padaku setelah urusannya usai dia akan mengajakku kerumah Pak Kiayi Halim untuk mencari solusi atas masalahku. Dia menghampiriku yang telah lama menunggunya. Memberi sebuah isyarat, bahwa aku akan pergi bersamanya sekarang.
        Siang ini matahari tak terlalu kejam memancarkan sinarnya yang terik. Angin segar dari udara desaku masih tercium kental dengan wangi dedaunan yang hijau dan kebun teh luas mengitari kampung halamanku. Langit yang cerah, awannya begitu setia memayungi kami yang tengah asyik bercengkrama dengan sosok siang yang menawan. Hal ini membuatku enggan membuka mulut, atau hanya sekedar basa-basi. Bukan karena aku benci pada Kak Rio, atau malas berbicara dengannya. Hanya saja aku ingin menikmati suasana yang indah ini. Berboncengan mengitari desa bersama Kak Rio, menikmati pemandangan alam yang membuat hatiku jauh lebih tenang sebelumnya.
        Sembari kunikmati perjalanan ini, lamunanku tersentak oleh bisingnya suara motor tepat dibelakangku. Kamipun terjatuh seketika, “Braaaak…” Pukulan keras dari Ayahku melayang tepat ke wajah Kak Rio. Aku terdiam sejenak. Ayah? Mengapa tiba-tiba dia tahu akan keberadaanku. Semakin benci saja aku dibuatnya! “Rupanya kau yang membawa kabur anak perempuanku! Cih..” hardik Ayah dengan wajah penuh amarah. Tomi dan kedua temannya menghadang Kak Rio. Sementara temannya yang satu lagi mendekapku dari belakang. Aku meronta dan mengamuk membabi buta agar terbebas dari jeratannya. Sekali lagi Kak Rio ditonjok wajahnya hingga memar. Aku geram. Aku menginjak kaki pria brengsek ini. Aku menggigit tangannya hingga Ia kesakitan, dan melepaskanku. Aku menarik tangan Kak Rio dan masuk ke sebuah gapura suatu desa.
        Kami lari sekuat tenaga. Sementara Ayah dan gerombolannya terus mengejarku. Para penduduk yang melihat kejadian ini sontak menghentikan kegiatannya sejenak. Mereka bertanya heran. Aku terus berlari gila memegang erat tangan Kak Rio yang tubuhnya sudah lemas. Nafasku terengah-engah. Kemudian Kami sembunyi didalam kandang ayam yang lumayan besar. Baunya luar biasa. Kandang ayam ini tak terlihat dari luar karena terbuat dari bilik. Tepatnya ini seperti tempat ternak ayam. Aku membopong tubuh Kak Rio ke balik tumpukkan jerami yang lumayan tinggi. Aku melihat wajah Kak Rio penuh dengan warna memar. Disekeliling kelopak matanya yang indah terbekas tonjokkan Ayah. Dan mulutnya mengeluarkan darah. Dia terus menahan sakit itu. Ternyata Ayah juga memukul perutnya hingga kesakitan. Sedikit demi sedikit Aku mengelapi darah yang keluar dari mulutnya. Seraya itu, aku menagis. Merasa diriku adalah orang yang patut dipersalahkan atas kondisi Kak Rio saat ini. Seharusnya Kak Rio tak terlibat dalam masalah ini. Seharusnya dia tak begini bila Aku tak menceritakannya dan meminta bantuannya. Aku menagis sejadi-jadinya. Akh…andai saja pagi itu tak kuceritakan masalahku padanya.
        “Maafkan aku, Kak!” Aku memeluk erat tubuhnya. Semua penyesalan yang tiba-tiba muncul tercurahkan dipelukkanku padanya. Pelukan sayang, khawatir, takut dan cemas akan kondisinya. “Bertahanlah, Kak! Pleeaaaseee…!!”
         Dia membelai lembut rambutku. “Bukan salahmu, Dik. Udahlah, Aku gak apa-apa.”
        Terdengar suara nafas terengah-engah dari luar sana memanggil-manggil namaku. Itu pasti suara ayah dan gerombolannya. Seketika tangisku hilang berubah menjadi kecemasan. Kulepaskan pelukkan eratku.
Aku mengintip dari bilik yang sudah tua itu. Terlihat ayah sedang bertanya pada seorang pria. “Heh… kau melihat seorang perempuan dan laki-laki berlari ke arah sini? Perempuan itu memakai baju berwara biru.” Bentak Ayah pada pria itu.
        Pria yang usianya mungkin sebaya dengan si Tomi berandalan kampung itu, terdiam seperti berfikir keras seolah-olah mengetahui keberadaanku. Aku cemas dan takut kalau dia mengetahui keberadaanku. Aku berharap semoga pria itu tidak mengetahui keberadaanku. Sesekali kulihat Kak Rio terpekur lemas tak berdaya. Aku takut sekali. Aku gelisah luar biasa. Rasanya aku ingin keluar dari kandang ini dan menyerah pada Ayah agar Kak Rio terselamatkan.
         “Heiii…. Kau lihat tidak!!!”
       “Ta…ta…tadi…..” ucapnya terbata-bata. Kecemasanku semakin berlebihan takut dia mengatakan keberadaanku. “Perempuan ii…iii…itu pergi kea rah sa…saa…sana!” sambil menunjuk ke sebuah gang. Kemudian ayah dan segerombolannya bergegas ke gang setapak yang ditunjukan oleh pria tergagap itu.
         “Huhft…Untunglah…” Aku meghela nafas dalam-dalam dan mengucap syukur pada-Nya. Ternyata pria itu tidak memberitahukan persembunyianku. Jantungku berdetak kencang ketika tiba-tiba pintu kandang ayam ini berderit seperti ada yang membukanya. Aku bersembunyi kebalik jerami lagi. Aku memegang erat tangan Kak Rio yang sudah semakin lemas. Seorang pria yang tadi berbicara dengan Ayahku kini tepat berada didepanku. Aku ketakutan. Tapi dia membalasnya dengan senyum yang tenang.
         “Tenang. mereka sudah pergi, Kok.” Ujarnya pada kami. Pria itu menarik tubuh Kak Rio. Aku membantu membopongnya mengikuti ajakan pria itu ke sebuah rumah. Dari dalam rumah keluarlah, seorang Ibu dan Bapak serta seorang gadis perempuan membantuku membopong Kak Rio. Gadis itu membawa Kak Rio kedalam kamar, kemudian mengobatinya. Sementara Ibu itu pergi kedapur untuk mengambil segelas minuman, dan Aku dipersilakan duduk tenang dalam perlindungannya. Bapak yang mengenakan baju putih dan peci putih itu menanyakan banyak hal padaku.
           “Bagaimana kejadiannya sampai bisa menggemparkan warga disini?” tanya Bapak itu.
          “Saya dikejar-kejar Ayah. Saya di fitnah menjual diri pada laki-laki yang nyaris memperkosa saya.” Ungkapku sambil meundukkan kepala, karena bingung dan malu dengan kondisiku saat itu.
             Bapak itu berfikir keras. Kemudian berkata lagi. “Kamu ini, Nara? Dan laki-laki itu Rio?”
            Aku mengernyitkan dahiku, nyaris saja kedua halisku bertemu. Aneh… Mengapa Bapak ini bisa mengenaliku dan Kak Rio? Tanyaku dalam hati. Melihat ekspresi wajahnya yang keheranan, aku segera mengangguk.
             Rupa-rupanya bapak itu adalah Pak Kiayi Halim. Tanpa sepengetahuanku ternyata Kak Rio telah menghubunginya sebelum kami pergi tadi siang dan sudah menceritakan tentang masalahku.
Mulailah aku menceritakan lebih jelas kejadian yang menimpaku. Dari Ketika Ibuku meninggal karena tertekan oleh sifat ayah dan sering dipukuli hingga peristiwa kejar-kejaran antara Aku dan Ayah tadi.
             “Astaghfirulloh… Sabar, Nak. Allah sedang mengujimu.” Kata Pak Kiayi ketika aku mengakhiri cerita semua peristiwa yang aku alami.
             Aku diam. Rasanya semua beban-bebanku hilang seketika.
             “Apakah, Pak Kiayi sudah menemukan solusinya?” harapku agar masalah ini cepat terselesaikan.
             “Yah… Saranku sebaiknya Kamu segera menikah.” Ujar Pak Kiayi dengan tenang.
             “Menikah????” Aku tersentak oleh perkataan tadi. “Tidak.. tidak.. tidak. Apa hubungannya menikah dengan masalahku ini??” Aku mengernyitkan lagi dahiku dan kali ini dengan penasaran yang sangat memuncak.
             “Menikah itu dapat menghindarkan diri dari fitnah. Lagipula supaya ada orang yang melindungimu dari Ayahmu dan preman itu.” Jelasnya dengan sangat tenang.
Melihat ketenangannya yang sangat dalam, aku malah semakin memanas. Tak habis pikir Aku dibuatnya. Mengapa dia menyuruhku menikah. Apa dia tak lihat bahwa aku masih kelas dua SMA. Masih sangat muda untuk menikah. Ah… yang benar saja…
              “Maaf, Pak Kiayi. Setahu saya menikah itu bukankah harus memiliki persiapan lahir dan batin? Saya belum siap untuk menikah. Lagipula siapa yang mau menikahi gadis yang telah orang anggap pelacur ini?”
               “Megenai calon suamimu, saya akan membantu mencarikannya.”
               “Apa tak ada cara lain?”
                Pak Kiayi menggelengkan kepala.
              “Lantas bagaimana dengan Ayah?” Tanyaku.
              “Sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang muslim untuk mengingatkan ayahmu. Biar Bapak urus ayahmu. Kau tenang saja. Sementara ini De Nara boleh tinggal dirumah Bapak sampai kondisinya sudah aman. Kau pikirkan saja dulu saranku baik-baik, Nak!”
               Pak Kiayi Halim dan anak Lelakinya yang bernama Furqon itu masuk ke Kamar yang didalamnya ada Kak Rio. Aku terdiam sejenak dikursi ruang tamu ini. Menikah?? Inikah jalan yang harus Aku ambil? Tapi sepertinya tak ada pilihan lain lagi. Yah… tak ada pilihan lain jika ada orang yang mau menikahiku. Aku tak peduli siapa orang itu. Seketika itu Aku teringat akan kecintaanku pada Kak Rio. Aku bingung. Tapi Aku tak mau mengambil keputusan lama-lama. Aku harus siap untuk menikah. Apa yang dikatakan Pak Kiayi itu benar, tak ada pilihan lain. Tak ada pilihan lain.
               Kulangkahkan kakiku menuju kamar itu. Aku melihat sesosok pria tampan yang tadi pagi merangkul hatiku dan membawaku pada detik ini terbaring lemas dikasur. Aku menyayanginya, aku menyayangi Kak Rio, begitupun dia. Tapi aku harus menikah dengan orang lain. Ini keputusanku. Aku harus yakin akan keputusanku. Tak terasa airmata kembali berderai. Tapi kali ini aku menahannya. Pak Kiayi melihatku. Disusul dengan kedua orang anaknya. Kak Furqon dan anak Perempuannya Fathimah. Sementara pria dengan suara ramah itu masih tertidur pulas.
                “Saya sudah mengambil keputusan agar menikah bila ada laki-laki yang mau menikahiku.” Ucapku sedikit ragu. Setetes airmata yang sempat kubendung itu akhirnya terjatuh juga.
                “Jangan terlalu cepat mengambil keputusan, Nak. Kau sudah pikirkan itu baik-baik?” tanyanya ragu.
                 “Tak ada pilihan lain, Pak. Lagi pula saya yakin bahwa Bapak akan mencarikan calon suami yang terbaik buat saya.” Aku menunduk malu. Sadar dengan usiaku yang masih muda, kalimat itu tak layak untuk kukatakan.
                  “Insya Allah. Anak bapak ini yang akan menjadi calon suamimu nanti.” Ujarnya.
                   Pria yang membebaskanku dari jeratan ayah ini yang akan mendampingiku selamanya? Yang akan melindungiku dari Ayah, menyelamatkan Aku dari fitnah. Aku sungguh tak percaya. Pria bernama Furkon itu yang akan menjadi calon suamiku.
                    Dan kecintaanku pada Kak Rio, ah… sulit rasanya untuk mengubur cinta itu dalam-dalam.


                         S E L E S A I
(FarahdillaPermana-) 

0 komentar:

Posting Komentar